Dinas Kesehatan Dompu mengungkapkan, merebaknya kasus dugaan campak disebabkan oleh belum lengkapnya vaksinasi MR pada anak kecil, terutama di masa pandemi COVID-19.
Dinas Kesehatan Kabupaten Dompo, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengakui, wabah campak yang tidak terduga ini dipicu oleh tidak lengkapnya imunisasi campak-rubella (MR) pada bayi.Kesenjangan imunisasi selama pandemi COVID-19 telah menyebabkan banyak anak terpapar virus tersebut.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Dompu Mariam Ulfa mengatakan kepada detikBali, Sabtu (14 Maret 2026): "Rata-rata kasus campak terdeteksi pada balita berusia 5 tahun ke bawah. Keduanya belum berstatus vaksinasi campak."
Ulfa menjelaskan, sebagian besar bayi yang terkena campak adalah anak yang lahir antara tahun 2021 hingga 2022.
Menurut Ulfa, pembatasan kegiatan masyarakat di masa pandemi menyebabkan pelayanan kesehatan, termasuk posyandu, terhenti.
“Sejak tahun 2020, kita sama-sama mengetahui bahwa terjadi peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia. Hampir semua kegiatan sosial, termasuk Posidung, dilarang sehingga anak-anak di bawah lima tahun tidak menerima vaksin campak saat itu,” jelasnya.
Ia menyatakan, kasus dugaan campak di Dompu kini sudah memasuki minggu kesembilan.Namun tren kasus mulai menurun dibandingkan minggu kedelapan.
"Pemprov NTB sudah teridentifikasi KLB Campak, tapi Dompu belum. Tapi respon Dinkes Dompu dalam penanganan campak sama dengan penanganan KLB tersebut. Bedanya hanya status pemantauannya, apa yang dilakukan provinsi, misalnya penerapan ORI campak, juga dilaksanakan di Dompu," ujarnya.
Dinas Kesehatan NTB sebelumnya telah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek campak di tiga kabupaten yakni Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu.Keputusan ini diambil setelah jumlah kasus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Pada minggu ke 7 tahun 2026, terdapat 985 kasus dugaan campak yang dilaporkan di ketiga wilayah tersebut.
Lalu Hamzi Fikri, Kepala Dinas Kesehatan NTB, mengatakan peningkatan kasus tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama adanya anak yang belum mendapatkan imunisasi Rubella dan Rubella (MR).
“Peningkatan kasus ini disebabkan adanya kelompok anak yang belum mendapatkan vaksin MMR secara lengkap. Cakupan vaksinasi rutin juga mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir sehingga mengakibatkan menumpuknya populasi yang rentan terhadap infeksi campak,” ujarnya.
Hamzi menyatakan, tingginya mobilitas masyarakat pada tahun-tahun terakhir dan awal turut berkontribusi terhadap penyebaran kasus-kasus tersebut.Selain itu, keterlambatan diagnosis dan pengobatan awal di lapangan juga menjadi salah satu faktor yang mempercepat peningkatan penyebaran penyakit tersebut.
