Website logo
Home

Blog

UNDRR: Perubahan iklim meningkatkan risiko penyebaran virus Nipah di Asia

UNDRR: Perubahan iklim meningkatkan risiko penyebaran virus Nipah di Asia

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh kelelawar Pteropus ke manusia atau hewan. JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan iklim diperkirakan akan memperluas wilayah sebaran kelelawar buah Asia pembawa virus Nipah. Hal ini akan meningkatkan risiko penularan penyakit mematikan tersebut ke...

UNDRR Perubahan iklim meningkatkan risiko penyebaran virus Nipah di Asia

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh kelelawar Pteropus ke manusia atau hewan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan iklim diperkirakan akan memperluas wilayah sebaran kelelawar buah Asia pembawa virus Nipah.

Hal ini akan meningkatkan risiko penularan penyakit mematikan tersebut ke manusia dan ternak, demikian laporan Kantor Pengurangan Risiko Bencana Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDRR/United Nations International Strategy for Disaster Risk Reduction) pada Selasa (27 Januari 2026), mengutip PreventionWeb.

Virus Nipah merupakan virus zoonosis yang terutama ditularkan dari kelelawar Pteropus ke manusia atau hewan, terutama jika manusia atau hewan tersebut bersentuhan dengan kelelawar di habitatnya.

Baca Juga: Virus Nipah Bisa Menular dari Kelelawar ke Manusia, Ini Cara Penularannya yang Perlu Diwaspadai

Nipah dapat menyebabkan penyakit parah dengan angka kematian hingga 75 persen pada orang yang terinfeksi.

Sejauh ini, kasus Nipah pada manusia relatif jarang terjadi, dengan kurang dari 350 kasus yang dilaporkan sejak tahun 2001, sebagian besar di Bangladesh.Namun, beberapa pakar kesehatan memperingatkan bahwa perubahan iklim berpotensi memperluas jangkauan kelelawar yang membawa virus ke wilayah baru, sehingga membuat lebih banyak komunitas berisiko tertular.

"Meningkatnya suhu akibat perubahan iklim mengubah suatu tempat menjadi habitat kelelawar, memaksa manusia dan ternak untuk tinggal di wilayah yang sama dengan kelelawar tersebut. Hal ini meningkatkan kemungkinan penyebaran virus dari hewan ke manusia atau ternak," tulis UNDRR.

Selain itu, perubahan iklim dan tekanan lingkungan pada kelelawar dapat memengaruhi perilaku mereka, meskipun hubungan langsung antara perubahan iklim dan peningkatan penyebaran virus belum sepenuhnya dikonfirmasi oleh penelitian ilmiah.

Beberapa organisasi dan perusahaan farmasi telah berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan vaksin Nipah, termasuk uji klinis vaksin tersebut yang diperkirakan akan dimulai di Bangladesh.

Namun dengan jumlah kasus yang lebih sedikit, efektivitas vaksin masih sulit diukur, dan pelaksanaan vaksinasi masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal penerimaan masyarakat.

Baca Juga: Dari Kelelawar Hingga Manusia, Inilah Alasan Dibalik Wabah Virus Nipah di India

Pakar kesehatan masyarakat mengatakan bahwa upaya untuk mengurangi gangguan lingkungan dan perubahan iklim yang dipadukan dengan upaya mencegah wabah zoonosis seperti Nipah dapat memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan teknologi medis.

Virus Nipah juga menjadi perhatian global setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan ditemukannya kasus di India.

Meski Indonesia belum mencatat satu pun kasus, pakar kesehatan masyarakat mengingatkan masyarakat akan pentingnya kewaspadaan dan kewaspadaan terhadap penyakit hewan mematikan tersebut.

Dokter paru dr.Ariani Permatasari, Sp.P(K) menjelaskan virus nipah merupakan penyakit menular yang dapat menyerang manusia setelah terpapar hewan tertentu.Virus ini diketahui berbahaya karena menyebabkan infeksi saluran pernafasan dan kerusakan sistem saraf.

Mari kita berkontribusi langsung dalam upaya pencegahan dan penanggulangan permasalahan stunting di Indonesia.Donasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi. Artikel ini adalah bagian dari KG MEDIA, sebuah inisiatif untuk mempercepat tujuan pembangunan berkelanjutan.mer

Explore daily updates and news including top stories in Sports, Tech, Health, Games, and Entertainment.

© 2025 Priangan News, Inc. All Rights Reserved.