Website logo
Home

Blog

Darah haid berpotensi menjadi alat skrining kanker serviks |IDN kali

Darah haid berpotensi menjadi alat skrining kanker serviks |IDN kali

Penelitian tersebut menemukan bahwa darah menstruasi menunjukkan akurasi yang sebanding dengan tes HPV konvensional. Xun Tian dkk., “Tes Darah Menstruasi Human Papillomavirus dalam Skrining Kanker Serviks di Tiongkok: Studi Berbasis Populasi Cross-Sectional,” BMJ 392 (4 Februari 2026): e084831, https://doi.org/10.1136/bmj-0418-. “Studi...

Darah haid berpotensi menjadi alat skrining kanker serviks IDN kali

Penelitian tersebut menemukan bahwa darah menstruasi menunjukkan akurasi yang sebanding dengan tes HPV konvensional.

Xun Tian dkk., “Tes Darah Menstruasi Human Papillomavirus dalam Skrining Kanker Serviks di Tiongkok: Studi Berbasis Populasi Cross-Sectional,” BMJ 392 (4 Februari 2026): e084831, https://doi.org/10.1136/bmj-0418-.

“Studi awal menyarankan penggunaan darah menstruasi untuk skrining HPV.”Cidrap.diaX Februari 2026.

Darah menstruasi berpotensi menjadi alat diagnostik kanker serviks

- Darah menstruasi sama akuratnya dengan tes HPV tradisional.

- Metode ini berpotensi meningkatkan akses terhadap skrining, terutama bagi perempuan yang enggan atau kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan.

- Meski menjanjikan, cara ini tidak bisa digunakan oleh semua kelompok perempuan.

Selama ini, darah menstruasi lebih sering dipandang sebagai limbah biologis – sesuatu yang harus dibuang, ditutupi, atau disembunyikan.Namun, studi observasional baru-baru ini yang diterbitkan dalam jurnal The BMJ menunjukkan bahwa darah menstruasi memiliki potensi besar sebagai alat skrining human papillomavirus (HPV), virus yang menyebabkan sekitar 90 persen kasus kanker serviks di seluruh dunia.

Dalam penelitian ini, para peneliti di Tiongkok menguji apakah darah menstruasi dapat digunakan untuk mendiagnosis HIV dibandingkan dengan metode tradisional.Lebih dari 3.000 wanita berusia 20 hingga 54 tahun dengan siklus menstruasi teratur diminta untuk mengambil darah menstruasi menggunakan minipad khusus, yaitu strip kapas steril yang ditempelkan pada pembalut biasa.Pada saat yang sama, mereka juga menjalani pemeriksaan serviks standar oleh petugas kesehatan.Mengerjakan

Hasilnya luar biasa.Tes HPV darah menstruasi mendeteksi 92-95% tumor ganas, mirip dengan metode skrining serviks.Selain itu, kemampuan metode ini dalam mendeteksi sampel juga sama tanpa kemampuan tersebut, dengan akurasi sekitar 89-90%.Dari sudut pandang epidemiologi, tampaknya darah menstruasi bukanlah metode alternatif, namun sangat penting untuk skrining berbasis populasi.

Para peneliti mengatakan metode ini non-invasif dan tidak memerlukan sampel serviks, sehingga lebih cocok untuk banyak wanita.Mereka mengatakan bahwa pendekatan ini dapat meningkatkan penerimaan dan efektivitas skrining, dua hal yang sangat menghambat pencegahan kanker serviks.

Akses lebih luas, namun tidak untuk semua orang

Isu terbesar dalam pencegahan kanker serviks bukanlah teknologi, namun akses dan partisipasi.

Misalnya, di Amerika Serikat (AS), sekitar satu dari empat wanita tidak menjalani pemeriksaan kanker serviks yang direkomendasikan, sehingga meningkatkan risiko keterlambatan diagnosis dan kematian.Hambatan yang sering terjadi mencakup jarak dari fasilitas medis, ketidaknyamanan, rasa malu, dan trauma medis yang terkait dengan pemeriksaan panggul.

Di Indonesia, cakupan skrining kanker serviks masih sangat rendah dibandingkan dengan tujuan kesehatan nasional dan standar global.Berdasarkan data terakhir, hanya 12,25 persen perempuan berusia 30 hingga 69 tahun yang mengikuti pemeriksaan kesehatan masyarakat (Pemeriksaan Kesehatan Gratis/CKG) pada tahun 2025, jauh dari target minimal 70 persen yang ditetapkan dalam strategi National Cancer Action Plan Cervical dan World Health Organization (WHO).

Dalam konteks ini, tes darah menawarkan cara yang lebih baik.Sampel dapat dikumpulkan secara individual dan dilakukan di rumah tanpa prosedur invasif.Hal ini sejalan dengan bukti terkini di berbagai negara, dan pemeriksaan di rumah (tes mandiri HPV) merupakan alternatif yang baik dibandingkan uji klinis, terutama untuk populasi yang sulit dijangkau.

Namun, orang bijak mengatakan ini bukanlah sebuah dunia.Hanya digunakan untuk mencoba normal darah pada wanita atau melanjutkan menstruasi.Wanita mungkin tidak berhasil dalam pascaManoopaalsal, atau klien, atau menggunakan Ulang Tahun Mormolial, dengan kesehatan dengan cara yang sehat.

Oleh karena itu, para peneliti menyarankan agar pendekatan ini diposisikan sebagai pelengkap dan bukan pengganti menyeluruh dari skrining konvensional.Integrasinya ke dalam pedoman skrining kanker serviks nasional harus mempertimbangkan keragaman kondisi biologis dan sosial perempuan.

Explore daily updates and news including top stories in Sports, Tech, Health, Games, and Entertainment.

© 2025 Priangan News, Inc. All Rights Reserved.